MMC MEDIA – Saat orang modern kian gandrung dengan media
sosial, maka kita dihadapan dengan fenomena baru yang lazim disebut fenomena menunduk.
Sikap menunduk itu bukan karena tawadlu atau rendah hati dengan masksud takzim
alias hormat kepada orang yang lebih tua.
Tapi fenomena yang dimaksud adalah kebiasaan orang kini yang asyik dan happy
dengan dirinya sendiri, menonton ponsel untuk bermedia sosial, main game,
lihat youtube atau bersosialita dengan circle-nya.
Misalnya menunggu obat, antri obat, di dalam kereta
api, mendengarkan ceramh, rapat bahkan saat mengobrol orang asyik menunduk dengan ponselnya seolah tak mau lepas sedikit
pun padahal sikap itu tidak selalu benar dan pas.
Mengutip berita CNBC Indonesia (29/4/25)
menyebutkan warga Indonesia masuk kategori parah dalam kecanduan ponsel. Laporan Global Digital Overviev Report 2025
mengabarkan orang Indonesia usia 16 tahun keatas menghabiskan waktunya 7 jam 22
menit per hari berselancar di dunia maya.
Dan tidak heran Indoensia dinobatkan sebagai negara dengan pengguna
ponsel terbanyak di dunia.
John Helming Neisbeat, futurolog asal Amerika,
penulis buku best seller berjudul Megatrend yang terjual laris 1,4 juta
eksemplar memprediksi bahwa manusia akan banyak menggnatungkan hidupnya dengan
teknologi dan media sosial. Sikapnya yang muncul kemudian adalah perilaku anti
sosial.
Pernyataan Neisbeat kini terbukti benar adanya.
Orang yang asyik hanyut dengan ponselnya seperti main game atau bermedia sosial
dan lainnya cenderung menarik diri dari interaksi sosial. Ada istilah malas
bergerak alias mager. Orang malas untuk hadir di pertemuan warga, tak peduli
dengan nasib tetangga, teman dan kolega.
Nilai – nilai sosial seperti gotong-royong, bersilaturakhim
dan saling bertegur sapa kian tipis terkikis budaya nonton hape. Orang kian mudah marah, sensitif dan
emosional jika keasyikan dan kepentingan pribadinya terusik tanpa peduli
kepentingan orang lain. Nilai - nilai luhur budi pekerti seperti hormat –
menghormati, harga – menghargai atau istilahnya jiwa tepa selira jadi
kian langka.
Fenomena lain yang tak kalah menarik adalah angka
kasus bunuh diri yang terus meningkat.
Data Harian Republika (15/12/24) mengabarkan kasus
bunuh diri tahun 2023 tercatat 1.214 kasus meningkat dari 902 kasus pada 2022.
Provinsi Jawa Tengah menjadi wilayah tertinggi kasus bunuh diri yakni 432
kejadian disusul Provinsi Jawa Timur mencata 225 kasus.
Tingginya kasus bunuh diri tidak bisa dimaknai
sebagai peristiwa orang meninggal dunia belaka.
Tapi ini urusan kerapuhan jiwa atau orang mudah putus asa alias hati ambyar.
Orang yang banyak berinteraksi dengan media sosial atau internet cenderung
mudah stress. Sebab realita dunia nyata
tak selalu seindah realita dunia maya yang sering ditonton dan dibayangkan.
Media dan teknologi menyuguhkan banyak kemudahan
dan fasilitas. Kasus judi on line, pinjaman on line, game dan konten-konten
media sosial menjanjikan kesenangan dan kemudahan yang tak disadari menjerat.
Dalih bunuh diri itu tak selalu urusan berat dan
rumit. Kadang urusan sepele sekedar
putus cinta ada saja orang lalu bunuh diri.
Ada juga karena dililit hutang, cekcok rumah tangga, sakit
berkepanjangan sampai bullying menjadi latar belakang orang mengambil langkah
bunuh diri yang sungguh – sungguh dilarang syariat.
Lalu apa solusi terbaiknya?
Merujuk pada wasiat Nabi Muhammad SAW adalah
menjaga silaturakhim dan berinteraksi sosial dengan sesama. Nikmat
ukhuwah atau persaudaraan itu ketika kita rukun dan hangat dengan linkungan
sosial. Saling menegur sapa (ta’aruf) ,
saling memberi dengan sedekah makanan kecil (ta’awun), saling membantu (tafakul)
menjadikan hidup kian indah dan menyenang.
Tak kalah penting komunikasi yang harmonis dalam
keluarga dan saudara. Canda dan tawa
suami istri, mendengarkan cerita anak yang mengadu dan bercerita sambil memijit
kaki bapak dan ibu yang sudah tua bisa mendatangkan keberkahan dan keselamatan. Jangan sampai hape menjauhkan orang-orang
yang harusnya dikasihi dan sayangi, tapi justeru memilih dekat mengasihi dan
menyayangi orang bukan muhrim kita.
Beribadahlah pada Allah dengan sempurna, jangan
syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, jagalah silaturakhim dengan kedua
orang tuamu dan saudaramu (HR Bukhori).
Allah SWT juga mengingatkan :
Dan sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan dengan
sesuatu apa pun, berbuat baiklah dengan kedua orang tuamu, kerabat, anak yatim,
orang-orang muslim, tetangga dekat dan jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan
hamba sahaya yang kau miliki. Sungguh Allah SWT tidak menyukai orang sombong
dan membanggakan diri (QS. An Nisa - 36)
Bermedia sosial bukan tidak boleh tapi harus
dibatasi. Jangan sampai waktu – waktu terbaik itu berlalu sia
– sia bahkan melupakan dan menjauhkan diri untuk beribadah. Orang beriman itu akan meninggalkan urusan
yang tidak berguna. Ia sangat menyadari jika waktu yang terbuang itu pasti akan
dimintai tanggung-jawab.
Korea dan Jepang konon sebagai negara maju membatasinya
anak-anaknya 2 jam saja untuk menggunakan ponsel dan bermedia sosial. Australia
dan Malaysia, negara tetangga terdekat mengatur bermedia sosial hanya bisa
diakses jika anak-anak sudah berusia 16 tahun.
Dan orang – orang yang menjauhkan diri dari
(perkataan dan perbuatan) yang tidak berguna (QS : Al Mukminun ayat 4)
Menulis, membaca buku atau tilawatil qur’an menjadi
kebiasaan baik seorang muslim. Waktu setelah
sholat magrib dan isya adalah waktu yang sakral untuk membina dan beribadah
dalam keluarga. Jadikan membaca al qur’an sebagai habbit atau kebiasaan
dalam keluarga agar langit menurunkan keberkahan-Nya.
Negara maju seperti Jerman dan Nurwegia sebagai
gudangnya teknologi kembali mengajari anak-anaknya untuk menulis dan membaca. Menulis
dan membaca itu mengajarkan kesabaran, fokus dan berpikir secara cermat. Matanya melihat, telinga mendengar, lisannya
bersuara dengan membaca lalu otaknya merekam sebagai ilmu dan memori.
Kesimpulannya, tidak ada kata untuk menyerah. Saatnya keluarga muslim segera berbenah lalu
hijrah. Mumpung sebelum semuanya
terlambat!
Penulis Joko Priyono Klaten


