• Jelajahi

    Copyright © MARI MENYERU
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    pasang

    Subscribe YouTube

    Wara’ Bermedia Sosial

    JEPRI JOKO PRIYONO KLATEN
    Kamis, 27 November 2025, November 27, 2025 WIB Last Updated 2025-11-28T02:24:29Z

     


    MMC MEDIA – Saat orang modern kian gandrung dengan media sosial, maka kita dihadapan dengan fenomena baru yang lazim disebut fenomena menunduk. Sikap menunduk itu bukan karena tawadlu atau rendah hati dengan masksud takzim alias hormat kepada orang yang lebih tua.  Tapi fenomena yang dimaksud adalah kebiasaan orang kini yang asyik dan happy dengan dirinya sendiri, menonton ponsel untuk bermedia sosial, main game, lihat youtube atau bersosialita dengan circle-nya.

     

    Misalnya menunggu obat, antri obat, di dalam kereta api, mendengarkan ceramh, rapat bahkan saat mengobrol orang asyik menunduk  dengan ponselnya seolah tak mau lepas sedikit pun padahal sikap itu tidak selalu benar dan pas.

     

    Mengutip berita CNBC Indonesia (29/4/25) menyebutkan warga Indonesia masuk kategori parah dalam kecanduan ponsel.  Laporan Global Digital Overviev Report 2025 mengabarkan orang Indonesia usia 16 tahun keatas menghabiskan waktunya 7 jam 22 menit per hari berselancar di dunia maya.  Dan tidak heran Indoensia dinobatkan sebagai negara dengan pengguna ponsel terbanyak di dunia.

     

    John Helming Neisbeat, futurolog asal Amerika, penulis buku best seller berjudul Megatrend yang terjual laris 1,4 juta eksemplar memprediksi bahwa manusia akan banyak menggnatungkan hidupnya dengan teknologi dan media sosial. Sikapnya yang muncul kemudian adalah perilaku anti sosial.

     

    Pernyataan Neisbeat kini terbukti benar adanya. Orang yang asyik hanyut dengan ponselnya seperti main game atau bermedia sosial dan lainnya cenderung menarik diri dari interaksi sosial. Ada istilah malas bergerak alias mager. Orang malas untuk hadir di pertemuan warga, tak peduli dengan nasib tetangga, teman dan kolega.

     

    Nilai – nilai  sosial seperti gotong-royong, bersilaturakhim dan saling bertegur sapa kian tipis terkikis budaya nonton hape.  Orang kian mudah marah, sensitif dan emosional jika keasyikan dan kepentingan pribadinya terusik tanpa peduli kepentingan orang lain. Nilai - nilai luhur budi pekerti seperti hormat – menghormati, harga – menghargai atau istilahnya jiwa tepa selira jadi kian langka.

     

    Fenomena lain yang tak kalah menarik adalah angka kasus bunuh diri yang terus meningkat.

     

    Data Harian Republika (15/12/24) mengabarkan kasus bunuh diri tahun 2023 tercatat 1.214 kasus meningkat dari 902 kasus pada 2022. Provinsi Jawa Tengah menjadi wilayah tertinggi kasus bunuh diri yakni 432 kejadian disusul Provinsi Jawa Timur mencata 225 kasus.

     

    Tingginya kasus bunuh diri tidak bisa dimaknai sebagai peristiwa orang meninggal dunia belaka.  Tapi ini urusan kerapuhan jiwa atau orang mudah putus asa alias hati ambyar. Orang yang banyak berinteraksi dengan media sosial atau internet cenderung mudah stress.  Sebab realita dunia nyata tak selalu seindah realita dunia maya yang sering ditonton dan dibayangkan.

     

    Media dan teknologi menyuguhkan banyak kemudahan dan fasilitas. Kasus judi on line, pinjaman on line, game dan konten-konten media sosial menjanjikan kesenangan dan kemudahan yang tak disadari menjerat.

     

    Dalih bunuh diri itu tak selalu urusan berat dan rumit.  Kadang urusan sepele sekedar putus cinta ada saja orang lalu bunuh diri.  Ada juga karena dililit hutang, cekcok rumah tangga, sakit berkepanjangan sampai bullying menjadi latar belakang orang mengambil langkah bunuh diri yang sungguh – sungguh dilarang syariat.

     

    Lalu apa solusi terbaiknya?

     

    Merujuk pada wasiat Nabi Muhammad SAW adalah menjaga silaturakhim dan berinteraksi sosial dengan sesama. Nikmat ukhuwah atau persaudaraan itu ketika kita rukun dan hangat dengan linkungan sosial.  Saling menegur sapa (ta’aruf) , saling memberi dengan sedekah makanan kecil (ta’awun), saling membantu (tafakul) menjadikan hidup kian indah dan menyenang.

    Tak kalah penting komunikasi yang harmonis dalam keluarga dan saudara.  Canda dan tawa suami istri, mendengarkan cerita anak yang mengadu dan bercerita sambil memijit kaki bapak dan ibu yang sudah tua bisa mendatangkan keberkahan dan keselamatan.  Jangan sampai hape menjauhkan orang-orang yang harusnya dikasihi dan sayangi, tapi justeru memilih dekat mengasihi dan menyayangi orang bukan muhrim kita.

    Beribadahlah pada Allah dengan sempurna, jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, jagalah silaturakhim dengan kedua orang tuamu dan saudaramu (HR Bukhori).

    Allah SWT juga mengingatkan :

    Dan sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan dengan sesuatu apa pun, berbuat baiklah dengan kedua orang tuamu, kerabat, anak yatim, orang-orang muslim, tetangga dekat dan jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kau miliki. Sungguh Allah SWT tidak menyukai orang sombong dan membanggakan diri (QS. An Nisa - 36)

     

    Bermedia sosial bukan tidak boleh tapi harus dibatasi.  Jangan sampai waktu – waktu terbaik itu berlalu sia – sia bahkan melupakan dan menjauhkan diri untuk beribadah.  Orang beriman itu akan meninggalkan urusan yang tidak berguna. Ia sangat menyadari jika waktu yang terbuang itu pasti akan dimintai tanggung-jawab.

    Korea dan Jepang konon sebagai negara maju membatasinya anak-anaknya 2 jam saja untuk menggunakan ponsel dan bermedia sosial. Australia dan Malaysia, negara tetangga terdekat mengatur bermedia sosial hanya bisa diakses jika anak-anak sudah berusia 16 tahun.

    Dan orang – orang yang menjauhkan diri dari (perkataan dan perbuatan) yang tidak berguna (QS : Al Mukminun ayat 4)

     

    Menulis, membaca buku atau tilawatil qur’an menjadi kebiasaan baik seorang muslim. Waktu setelah sholat magrib dan isya adalah waktu yang sakral untuk membina dan beribadah dalam keluarga. Jadikan membaca al qur’an sebagai habbit atau kebiasaan dalam keluarga agar langit menurunkan keberkahan-Nya.

    Negara maju seperti Jerman dan Nurwegia sebagai gudangnya teknologi kembali mengajari anak-anaknya untuk menulis dan membaca. Menulis dan membaca itu mengajarkan kesabaran, fokus dan berpikir secara cermat.  Matanya melihat, telinga mendengar, lisannya bersuara dengan membaca lalu otaknya merekam sebagai ilmu dan memori.

    Kesimpulannya, tidak ada kata untuk menyerah.  Saatnya keluarga muslim segera berbenah lalu hijrah.  Mumpung sebelum semuanya terlambat!

     

    Penulis Joko Priyono Klaten

     

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini