MMC Media – Salah satu
masjid kuno di Klaten adalah Masjid Majasem. Menginjakan kaki pertama di
pelataran Masjid Majasem yang teletak di Dukuh Majasem, Desa Pakahan, Kecamatan
Jogonalan, Kabupaten Klaten itu langsung terasa magis keteduhan dan
kedamaiannya menusuk hati.
Apalagi ketika masuk di
ruang induknya. Enam belas pilar kokoh
dari kayu jati berdiameter 30 cm berdiri kokoh. Ada empat pilar pokok berdiri
tegak sepanjang 7 m. Dua belas pilar yang lain berdiri mengelilingi setinggi 4
m.
Tembok dinding tebal
kira-kira hampir 40 cm. Gurat-gurat jati
sebagai tiang dan kayu silang penyangga terlihat berlekik-lekik menunjukan tua usia kontruksinya.
Masjid Majasem memang tidak
tinggi kontruksi bangunannya. Temboknya
hanya sekitar 3 m tingginya. Maka tak
heran untuk orang dewasa dengan mudah menyentuh kayu – kayu penyangga pilar
atas pintu masjid.
Tempat imam sholat tidak
terlalu Istimewa. Temboknya tidak tinggi. Tapi kanan kirinya tertutup rapat
dengan tembok sehingga suara imam terdengar sedikit menggema. Tapi malah terasa masuk ke relung hati bagi
yang mendengar.
Berdasar pengamatan MMC
media, Masjid Majasen punya karisma tersendiri yang tidak mudah ditemukan di
masjid yang lain. Bangunan induk berukuran 10 m x 12 m. Ditambah teras depan diperkirakan Masjid
Majasem mampu menampung sekitar 100 sampai 150 jamaah.
Tapi jangan kuatir. Pelataran masjid masih cukup luas dan lebar.
Tembok pagar pembatas dipugar dan dihilangkan sehingga mampu menampung jamaah
yang terpaksa tidak bisa masuk ke ruang induk.
Masjid kuno Majasem yang
konon dibangun tahun 1385 Masehi (menurut penuturan Poniman, Dewan kemakmuran
Masjid) terlalu sayang jika warga Klaten
belum pernah sujud di masjid peninggalan para wali itu. Menikmati sholat
tarawih bersama keluraga sesekali perlu disempatkan untuk menikmati keteduhan
dan kedamaian bermunajad di Masjid Majasem, Pakahan, Jogonalan, Klaten.
Silahkan mencoba.
dan selintas melihat ruang
induk masjid
ARIMENYERU.COM - Sebuah
video yang menayangkan rekaman seekor burung gagak berwarna hitam melepaskan
bendera Israel dari tiang pancang, viral di berbagai platform media sosial.
Berdasarkan hasil
penyelusuran MARIMENYERU.COM pesan berbentuk video tersebut wira - wiri
tersebar di media perpesanan whatsaap group (WAG).
Fakta lain ditemukan media
tvONEnews mengunggah video itu 1 Mei 2023.
Selang sehari diunggah di
channel tersebut, tayangan video yang diberi judul Ajaib! Detik-detik Burung
Gagak Lepaskan Bendera Israel yang Berkibar, Kuasa Illahi? itu telah ditonton
904.000 kali, disuka 18 ribu penonton dan dikomentari 7.500 kali warganet
Belum diperoleh keterangan
pasti kapan dan dimana kejadian seekor burung gagak yang menurunkan bendera
Israel itu.
Dalam video berdurasi 1
menit 5 detik itu tampak seekor burung gagak awalnya bertengger persis di atas
tiang bendera dimana bendera Israel berkibar. Berlatar gedung tingkat berwarna
putih itu lalu burung gagak hitam itu mematuk-matuk sisi atas bendera yang
lubangnya dimasukan ke besi pancang.
Dengan patuknya itu lalu
burung gagak itu menarik ke atas bendera Israel agar terlepas dari tiang
pancang sambil mengibas-ibaskan sayapnya. Setelah beberapa saat, lalu bendera
Israel itu berhasil diangkat dan dilepaskan
oleh burung gagak itu dan akhirnya jatuh terbawa angin.
Setelah diunggah video
itu, channel tvONEnews banjir komentar.
Netizen Hadi Mulyono menulis “Subhannahullah. Maha besar Allah dengan segala
Kuasa-Nya”.
Sedangkan netizen lainnya
Yadi Satri mengungkapkan “Terima
kasih ya Allah,Engkau telah mewakili perasaan kami melalui burung gagak.Semoga
burung itu baik2 saja dan terus hidup”.
Penulis
Joko Priyono Klaten.
Editor
Joko Priyono Klaten.
KLATEN - Nasib malang
dialami nenek Qosilah. Perempuan tua 75
tahun warga Bandung, Beji, Tulung, Klaten harus hidup sebatang kara. Tidak ada
anak juga saudara.
Ia lumpuh. Kedua kaki nenek Qosilah kaku tidak
bisa diluruskan.
Nenek Qosilah hanya bisa
tidur di atas tikar beralaskan tanah liat, bukan di atas dipan. Dua lembar
selimut menjadi teman pengusir dinginnya malam.
Tinggalnya hanya menumpang
di rumah keponakan. Rumah itu pun statusnya sudah dijual.
Setiap saat jika pembeli
rumah itu ingin menempati, nenek Qosilah harus siap-siap angkat kaki.
Untuk makan dan minum nenek
Qosilah hanya berharap iba tetangga kanan dan kiri. Beruntung ada salah satu
tetangga yang peduli merawat.
Relawan Sri Hartati dari
Yayasan Peduli Anak Yatim (Yaspim) Darussalam Klaten menemukan nenek Qosilah saat memberikan
santunan bagi kaum duafa sekitar bulan Agustus 2022 lalu.
Dia menuturkan kalau nenek
Qosilah memang hidup sebatang kara di usianya yang sudah senja.
“Kami tidak sengaja
dipertemukan dengan nenek Qosilah di aksi kemanusiaan Yayasan Yaspin Klaten
dengan relawan yang lain. Nenek Qosilah
hidup sebatang kara. Beliau usianya 75 tahun” kata Sri Hartati saat dikonfirmasi
(Senin, 19/09/22).
Terkait kondisi
kesehatannya, wanita yang aktif sebagai
relawan sungai dan tinggal di Pasungan,
Ceper, Klaten itu mengatakan kalau nenek Qosilah kakinya lumpuh.
“Benar kedua kaki Mbah Qosilah
tidak bisa diluruskan. Saya tidak
tahu sakit apa. Karena tidak bisa
diluruskan, sehingga beliau tidak bisa berdiri dan berjalan. Beruntung ada
salah satu tetangga yang peduli merawat. Hanya kebutuhan hidup nenek Qosilah
tidak ada yang menjamin” tuturnya.
Penulis : Joko Priyono Klaten.




