• Jelajahi

    Copyright © MARI MENYERU
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    pasang

    Subscribe YouTube

    Menikmati Kekhusyukan Sujud di Masjid Kuno Majasem, Klaten Apalagi di Bulan Ramadhan.

    JEPRI JOKO PRIYONO KLATEN
    Kamis, 26 Februari 2026, Februari 26, 2026 WIB Last Updated 2026-02-26T08:04:15Z

     



    MMC Media – Salah satu masjid kuno di Klaten adalah Masjid Majasem. Menginjakan kaki pertama di pelataran Masjid Majasem yang teletak di  Dukuh Majasem, Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten itu langsung terasa magis keteduhan dan kedamaiannya menusuk hati. 

     

    Apalagi ketika masuk di ruang induknya.  Enam belas pilar kokoh dari kayu jati berdiameter 30 cm berdiri kokoh. Ada empat pilar pokok berdiri tegak sepanjang 7 m. Dua belas pilar yang lain berdiri mengelilingi setinggi 4 m.

     

    Tembok dinding tebal kira-kira hampir 40 cm.  Gurat-gurat jati sebagai tiang dan kayu silang penyangga terlihat berlekik-lekik  menunjukan tua usia kontruksinya.

     

    Masjid Majasem memang tidak tinggi kontruksi bangunannya.  Temboknya hanya sekitar 3 m tingginya.  Maka tak heran untuk orang dewasa dengan mudah menyentuh kayu – kayu penyangga pilar atas pintu masjid.

     

    Tempat imam sholat tidak terlalu Istimewa. Temboknya tidak tinggi. Tapi kanan kirinya tertutup rapat dengan tembok sehingga suara imam terdengar sedikit menggema.  Tapi malah terasa masuk ke relung hati bagi yang mendengar.



     

    Berdasar pengamatan MMC media, Masjid Majasen punya karisma tersendiri yang tidak mudah ditemukan di masjid yang lain. Bangunan induk berukuran 10 m x 12 m.   Ditambah teras depan diperkirakan Masjid Majasem mampu menampung sekitar 100 sampai 150 jamaah.

     

    Tapi jangan kuatir.  Pelataran masjid masih cukup luas dan lebar. Tembok pagar pembatas dipugar dan dihilangkan sehingga mampu menampung jamaah yang terpaksa tidak bisa masuk ke ruang induk.

     

    Masjid kuno Majasem yang konon dibangun tahun 1385 Masehi (menurut penuturan Poniman, Dewan kemakmuran Masjid) terlalu sayang  jika warga Klaten belum pernah sujud di masjid peninggalan para wali itu. Menikmati sholat tarawih bersama keluraga sesekali perlu disempatkan untuk menikmati keteduhan dan kedamaian bermunajad di Masjid Majasem, Pakahan, Jogonalan, Klaten. 

     

    Silahkan mencoba.

     

     

     

     

    dan selintas melihat ruang induk masjid

     

    ARIMENYERU.COM - Sebuah video yang menayangkan rekaman seekor burung gagak berwarna hitam melepaskan bendera Israel dari tiang pancang, viral di berbagai platform media sosial.

    Berdasarkan hasil penyelusuran MARIMENYERU.COM pesan berbentuk video tersebut wira - wiri tersebar di media perpesanan whatsaap group (WAG).

    Fakta lain ditemukan media tvONEnews mengunggah video itu 1 Mei 2023.

    Selang sehari diunggah di channel tersebut, tayangan video yang diberi judul Ajaib! Detik-detik Burung Gagak Lepaskan Bendera Israel yang Berkibar, Kuasa Illahi? itu telah ditonton 904.000 kali, disuka 18 ribu penonton dan dikomentari 7.500 kali warganet

    Belum diperoleh keterangan pasti kapan dan dimana kejadian seekor burung gagak yang menurunkan bendera Israel itu.

    Dalam video berdurasi 1 menit 5 detik itu tampak seekor burung gagak awalnya bertengger persis di atas tiang bendera dimana bendera Israel berkibar. Berlatar gedung tingkat berwarna putih itu lalu burung gagak hitam itu mematuk-matuk sisi atas bendera yang lubangnya dimasukan ke besi pancang.

    Dengan patuknya itu lalu burung gagak itu menarik ke atas bendera Israel agar terlepas dari tiang pancang sambil mengibas-ibaskan sayapnya. Setelah beberapa saat, lalu bendera Israel itu berhasil  diangkat dan dilepaskan oleh burung gagak itu dan akhirnya jatuh terbawa angin.

    Setelah diunggah video itu,  channel tvONEnews banjir komentar. Netizen Hadi Mulyono menulis “Subhannahullah. Maha besar Allah dengan segala Kuasa-Nya”.

    Sedangkan netizen lainnya Yadi Satri mengungkapkan Terima kasih ya Allah,Engkau telah mewakili perasaan kami melalui burung gagak.Semoga burung itu baik2 saja dan terus hidup”.

    Penulis Joko Priyono Klaten.

    Editor Joko Priyono Klaten.

     

     

     

    KLATEN - Nasib malang dialami nenek Qosilah.  Perempuan tua 75 tahun warga Bandung, Beji, Tulung, Klaten harus hidup sebatang kara. Tidak ada anak juga saudara.

    Ia  lumpuh. Kedua kaki nenek Qosilah kaku tidak bisa diluruskan.

    Nenek Qosilah hanya bisa tidur di atas tikar beralaskan tanah liat, bukan di atas dipan. Dua lembar selimut menjadi teman pengusir dinginnya malam. 

    Tinggalnya hanya menumpang di rumah keponakan. Rumah itu pun statusnya sudah dijual.

    Setiap saat jika pembeli rumah itu ingin menempati, nenek Qosilah harus siap-siap angkat kaki.

    Untuk makan dan minum nenek Qosilah hanya berharap iba tetangga kanan dan kiri. Beruntung ada salah satu tetangga yang peduli merawat.

    Relawan Sri Hartati dari Yayasan Peduli Anak Yatim (Yaspim) Darussalam Klaten  menemukan nenek Qosilah saat memberikan santunan bagi kaum duafa sekitar bulan Agustus 2022 lalu.

    Dia menuturkan kalau nenek Qosilah memang hidup sebatang kara di usianya yang sudah senja.

    “Kami tidak sengaja dipertemukan dengan nenek Qosilah di aksi kemanusiaan Yayasan Yaspin Klaten dengan relawan yang lain.  Nenek Qosilah hidup sebatang kara. Beliau usianya 75 tahun” kata Sri Hartati saat dikonfirmasi (Senin, 19/09/22).

    Terkait kondisi kesehatannya,  wanita yang aktif sebagai relawan sungai dan tinggal di  Pasungan, Ceper, Klaten itu mengatakan kalau nenek Qosilah kakinya lumpuh.

    “Benar kedua kaki Mbah Qosilah  tidak bisa diluruskan.  Saya tidak tahu sakit apa.  Karena tidak bisa diluruskan, sehingga beliau tidak bisa berdiri dan berjalan. Beruntung ada salah satu tetangga yang peduli merawat. Hanya kebutuhan hidup nenek Qosilah tidak ada yang menjamin” tuturnya.

    Penulis : Joko Priyono Klaten.

     

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini