• Jelajahi

    Copyright © MARI MENYERU
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    pasang

    Subscribe YouTube

    Pahit Getir Titik Tiwuk Social Worker Asal Klaten Merawat ODGJ Sampai Penyintas Kanker, Salah Satunya Bikin Nangis Bombay

    JEPRI JOKO PRIYONO KLATEN
    Minggu, 04 Januari 2026, Januari 04, 2026 WIB Last Updated 2026-01-05T01:35:33Z


    Foto : Rumah tempat tinggal Titik Tiwuk sekaligus merawat penyintas kanker dan ODGJ di Jongkare, Karanganom, Klaten, Jawa Tengah.


    Pengabdian perempuan social worker atau pekerja sosial asal Klaten punya cerita menarik yang mengundang emosi saat mendengar kisahnya merawat orang – orang kurang beruntung itu.  Titik Tiwuk demikian akrab disapa memilih merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), stroke dan penyintas atau penderita kanker lewel parah.


    Disebut lewel parah karena penyakitnya sudah stadium lanjut nyaris sulit disembuhkan.  Hari – hari para penyintas dan ODGJ itu seolah hanya menunggu keajaiban Tuhan. Hidup mereka sangat tergantung dengan orang lain.  Dari makan minum mereka harus disuapi.  Mandi berpakaian, Ganti pampers, pipis sampai buang air besar mereka harus ditolong.


    Apalagi yang menderita kanker ganas seperti serviks dan payudara.  Istilah medisnya adalah pasien mengalami decubitus.  Yaitu luka lebar dan kerusakan jaringan kulit yang menembus ke dalam hampir sampai tulang akibat lama tidak bergerak dan tekanan beban tubuh pasien. Tidak sedikit tubuhnya membusuk dan dihinggapi belatung dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.  Belum yang menderita kanker serviks.


    “Mereka yang menderita penyakit berat seperti stroke total, ODGJ, atau kanker payudara dan serviks stadium lanjut. Mereka 100% hidupnya bergantung pada orang lain. Kami menyuapi mereka, memandikan mereka, mengganti pampers, membersihkan kotoran, menceboki, bahkan yang penderita kanker serviks stadium empat dan baunya sangat menyengat.  Dari lukanya itu  selalu mengeluarkan nanah dan  darah dari kemaluannya. Orang lain tidak mau mendekat tapi kami merawat dan membersihkan lukanya setiap saat dengan penuh kasih sayang.  Bau tidak sedap itu kami anggap sebagai bau wangi surga.   Saya juga memeriksakan rutin ke rumah sakit, dan merawat hingga hembus napas terakhir” tutur Tiwuk saat bincang – bincang via whatsApp kepada marimenyeru.com.


    Ibu tiga anak yang semuanya sekolah di pondok pesantren buah hati dari cintanya dengan Muhtadi mencoba menahan isak tangisnya ketika bercerita tentang kisahnya merawat seorang ODGJ di rumahnya Jongkare, Karanganom, Klaten, Jawa Tengah,


    “Saya juga merawat ODGJ yang sakit stroke. Ini pasien yang paling menguras kesabaran. Coba bayangkan kalau dia BAB itu kotorannya diratakan di lantai. Istilahnya Jawa-nya diledrek-ledrek.  Dan kalau BAB, harus  dibersihkan dengan air hangat.  Sebab kalau tidak dibersihkan dengan air dingin, dia itu kejang-kejang.  Jadi tidak heram jam dua belas malam saya harus memasak air hangat.  Belum lagi kalau marah, pernah kotoran BAB itu digosokkan di muka saya.  Malah di-raup-kan ke muka saya, istilahnya.  Tapi itu saya terima karena dia melakukan itu tidak atas kemauannya sendiri “ Tutur Tiwuk sambil terisak.


    Tiwuk ikhlas menjalani profesinya biar pun tidak ada orang yang membayar. Saudaranya yang jauh dan upah jasa suaminya yang memelihara ayam milik tetangga jadi modal merawat pasiennya di rumah.


    “Saya pernah merawat bapak dan ibu yang sakit diabetis dan stroke selama 10 tahun.  Jadi kalau mengantar berobat bapak dan ibu ke rumah sakit itu bergantian. Sampai keduanya meninggal dunia dunia sekitar 2011. Kakak diluar kota sering membantu mengirim uang.  Juga upah suami yang memelihara ayam punya tetangga. Saya menemukan kenikmatan ketika merawat orang sakit.  Dan itu saya jalani.  Memandikan, menggantikan panpers, menyuapi, membersihkan kotoran sampai ada yang luka parah pasien saya itu di pantatnya luka mengangga dan ada belatungnya yang harus dibersihkan. Ada juga perempuan tua yang kanker servik sampai mengeluarkan cairan yang sangat berbau dari alat vital” kisahnya.   


    Tentang jumlah pasien yang dirawat di rumah pribadinya sampai tahun 2025, Tiwuk emngatakan sudah banyak.  Kebanyakan mereka adalah pasien  terlantar dari keluarga ditemukan petugas yang diserahkan pemerintah karena memang terkendala fasilitas dan dana.


    “Saat ini ada 5 pasien yang di rawat di rumah (saya).  Ada yang ODGJ, stroke, kanker payudara dan kanker servik.  Kebanyakan kanker yang mereka derita sudah stadium lanjut. Kalau total sejak 2019 ada sekitar 12 pasien yang pernah saya rawat dan 7 lainnya sudah meninggal dunia. Mereka semua itu orang terlantar dengan sakit sangat parah.  Keluarga tidak mau merawat dan pemerintah sendiri belum punya fasilitas dan dana untuk merawatnya.  Biasanya yang seperti itu lalu diserahkan kepada saya untuk kemudia saya bawa pulang untuk dirawat” pungkasnya.


    Titik Tiwuk punya cara sendiri untuk bahagia.  Kalau jamak orang mengejar uang, jabatan dan kekayaan untuk meraih bahagia. Tapi Tiwuk tidak demikian. Ia menikmati hidup dengan orang lain yang sakit parah biar pun dia harus kehilangan waktu, tenaga, emosi dan bahkan hartanya.


    Tapi dalam sunyi merawat ODGJ dan penyintas kanker itu ia menemukan bahagia.



    Penulis Joko Priyo Utomo Klaten

    Aulia Collection yang terletak di Dukuh Jotang, Desa Kradenan, Kecamatan Trucuk, Klaten melayani fashion muslim dan kebutuhan oleh-oleh umroh dan haji yang lengkap, murah, berkualitas dan siap antar gratis. Pemesanan hubungi 0813-2772-9332.



    Komentar

    Tampilkan

    Terkini