• Jelajahi

    Copyright © MARI MENYERU
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    pasang

    Subscribe YouTube

    Menemukan Sosok Amru Bin Janmuh Saat Iktikaf di Masjid Syifa Klaten

    JEPRI JOKO PRIYONO KLATEN
    Selasa, 17 Maret 2026, Maret 17, 2026 WIB Last Updated 2026-03-18T07:40:56Z



    MMC Media – Di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, umat islam berlomba – lomba mengejar lailatul qodar. Sebuah malam yang kebaikannya bak seribu bulan dengan beriktikaf.  Tapi iktikaf di Masjid Syifa RSUI Klaten ada yang sedikit berbeda. 


    Sosok yang membuat beda adalah Mas Udin.  


    Pria paruh baya asli Tegalsari, Gading, Belangwetan, Klaten Utara itu hadir sebagai peserta iktikaf. Kehadirannya di iktikaf Masjid Syifa bisa menjadi penyemangat sekaligus nasehat bagi sesamanya.


    Maaf Mas Udin tubuhnya tidak sempurna.  Beliau mengingtkan pada sosok seorang sahabat Amru Bun Janmuh.  Ia terkenal dengan semangat jihadnya biar pun kakinya pincang. Amru Bin Janmuh bekali – kali minta izin kepada nabi untuk maju perang.  Tapi seringkali nabi menolak.


    Sampai hati nabi luluh dengan ungkapan Amru Bin Janmuh yang membuat siapa akan bergetar.  “Nabi izinkan aku maju perang.  Saya ingin masuk surga dengan kaki yang pincang” tegas Amru Bin Janmuh.


    Mas Udin tak ubahnya Amru Bin Janmuh kala kini.  Salah satu kakinya menggunakan kaki palsu sampai lututnya. Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih.  Konon sewaktu masih bujang Mas Udin hendak merantau ke ibukota.  Tapi malang, saat sampai di Purwokerto, di dalam kereta api dirinya dijampret dan didorong jatuh dari kereta api oleh pelaku.


    Malang salah satu kakinya terlindas roda kereta api dan terpaksa Mas Udin harus memakai kaki palsu untuk berjalan.


    “Tadi habis sholat tarawih di Masjid Al Aqso.  Lalu iktikaf di Masjid Syifa Klaten” cerita Mas Udin saat ditemui marimenyeru.com Senin malam (16/3).


    Pria yang tercatat sebagai karyawan RSUI Klaten itu sering pindah- pindah saat ingin ibadah iktikaf.


    “Saya naik sepeda saja ke Masjid Syifa.  Nanti empat tahun lagi saya pensiun dari RSUI Klaten” tambauhnya singkat.


    Walau kakinya tidak sempurna, Mas Udin tetap semangat menjaga sholat lima waktunya dan iktikaf mengejar malam lailatul qodar di sepuluh hari bulan Ramadan. Sepeda dan kaki palsunya mejadi saksi perjuangannya merebut ridlo Illahi.


     Kalau yang kakinya tidak sempurna saja semangat, bagaimana dengan kita yang ditakdirkan bertubuh sempurna dalam menjaga ketaatan.


    Penulis Joko Priyono Klaten

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini