MMC Media – Bisa membangun
keluarga bahagia apalagi bersanding dengan sosok pujaan hati, tentu menjadi impian
setiap insan. Hari – hari terasa nyaman sebab ada sandaran hati yang disayang. Ada
orang tempat berlabuh di kala sedih. Ada teman bercerita ketika sepi. Ada teman
di kala makan, tidur atau hadirnya sosok penyabar yang merawat ketika salah
satu pasangan yang sakit lalu membisikan lembut untuk kuat.
Itu semua impian. Kenyataannya tidak semua harapan itu hadir di
depan mata. Bagi sebagian kalangan yang merindukan cinta, punya pasangan hidup yang
diidam – idamkan ternyata masih menjadi mimpi. Hidup jomblo alias belum berjodoh jadi
kenyataan yang harus diterima. Seringkali
status jomblo itu bikin kurang pede dan bahan ledekan teman.
Yang terpenting, semua tidak
boleh putus asa menjemput jodoh yang didamba. Bagi kalian yang masih menjomblo,
jangan berkecil hati. Jodoh itu gaib,
tidak ada orang yang mengerti. Yang pasti Tuhan menakdirkan umat manusia itu hidup dalam
berpasangan agar melahirkan keturunan.
Bukan untuk hidup sedih dalam kesendirian. Itu yang harus diyakini.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٢١
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa
Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu
merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir (QS Ar-Rum : 21).
Maka tugasnya sekarang adalah menjemput takdir jodoh
itu. Jangan hanya berdiam diri di rumah
tanpa ikhtiar. Tuhan tidak akan mengubah nasib kaum kalau kaum itu tidak mau
mengubah jalan hidupnya.
Sekarang, pertanyaanya apa tips jitu menjemput jodoh itu? Menurut
Majdi bin Manshur bin Sayyid Asy-Syuri dalam buku Permata Pengantin menulis ada
tujuh tips jitu menjemput jodoh untuk diamalkan.
Pertama merayu Allah Sang Maha Pemilik
Hati.
Sering orang mendampa jodoh pasangan hati, tapi
sering lupa meminta jodoh itu kepada Allah
Sang Pemilik Hati. Sebab Dia-lah yang
membolak-balikkan hati, memasukan rasa suka, benci dan cinta kepada setiap
hamba.
Cara merayu Allah itu bukan sekedar doa meminta,
tapi bagaimana manusia menjaga hatinya selalu bertaut ketika Sang Kholik
menyapa. Panggilan adzan untuk sholat itu sampai di telinga, itu wujud
panggilan ketaaatan. Masih taatkah kaki
itu menuju pintu masjid atau sebaliknya justeru menunda-nunda sholat balik
kanan memilih bebal tidak peduli.
Kita mengiba meminta Allah SWT memberikan jodoh,
tapi perilaku hamba malah abai panggilan Sang pemilik jodoh. Itu tidak
selaras. Maka menjemput jodoh itu
seiring dengan menjaga ketaatan, terutama menjaga sholat fardlu.
Kedua Mempersiapkan diri.
Mempersiapkan diri menjemput jodoh itu tidak selalu
melandaskan dengan harta, rumah, uang dan sebagainya. Tapi memiliki ilmu tentang pernikahan. Apa yang menjadi hak suami – istri, kewajiban
kedua pasangan untuk dimengerti juga adab – adab memperlakukan pasangan agar
tidak berakhir dosa dan kecewa.
Ketiga Mengawali niat.
Niat yang benar menuju pernikahan adalah kunci kekuatan
melanggengkan bahtera rumah tangga di atas badai dan ombak yang menghantam. Niat
nikah yang salah bisa berujung kecewa dan susah. Nikah itu ibadah dan menuju
kesempurnaan akidah, yakni memohon ridlo Allah SWT.
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada
niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang
hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya.
Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya,
maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari,
no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Keempat sering silaturakhim
Bersilaturakhim itu mengunjungi tempat –
tempat yang Allah ridlio atau bertemu dengan orang sholeh. Kalau ingin berjodoh
dengan pasangan yang baik, maka bergaullah dengan orang – orang yang baik. Jangan sembarangan mencari teman atau
melangkah ke tempat maksiat.
Cari teman yang memudahkan mengingat Allah SWT atau kebaikan.
Sebab manusia tempat lupa dan salah. Lingkungan sosial yang baik akan
mengingatkan ketika lupa dan meluruskan ketika bengkok. Di tempat yang baik dan diridloi Allah, di
sanallah orang baik berkumpul.
Kelima meminta
bantuan orang lain
Memintakan bantuan orang lain untuk
mendekatkan jodoh itu bukan tabu apalagi aib. Tapi jangan sembarangan orang. Pilihlah sosok jujur dan amanah dalam menjaga
rahasia misalnya guru atau ustadz – ustadzah yang lurus akidah dan sholeh amalnya.
Keenam berani
mengungkapkan sikap
Dalam proses pernikahan seorang laki – laki bisa memilih siapa wanita sholekah yang akan
dijadikan tambatan hati. Tapi bagi
seorang wanita, ia berhak menentukan sikap
menerima atau menolak. Sikap seorang
laki – laki tidak bisa disimpan sebagai perasaan agar wanita mengetahui
sendiri. Keberanian seorang laki – laki atas
perasaan terhadap wanita yang disukai
membuktikan dirinya pria yang berani dan bertanggung-jawab. Sikap ini penting
bagi seorang wanita.
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan,
dan agamanya. Pilihlah wanita yang taat beragama, maka engkau akan
berbahagia. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ketujuh
berprasangka baik
Dalam sebuah hadis qudsi manusia dilarang
berprasangka buruk (su udzon) kepada Allah SWT sebab Dia tergantung prasangka
hamba-Nya. Bisa jadi menjemput jodoh itu butuh waktu. Di saat itulah manusia dipaksa bersabar,
karena bersabar itu adalah perintah yang harus dilandasi prasangka baik
(khusnudzon).
Bersabar itu ketika hati dan lisan tidak
mengeluh. Dengan sabar menjemput jodoh
itu seiring untuk memantaskan diri semoga Allah SWT menyiapkan pahala yang
besar balasan dari kesabaran.
Intinya jodoh itu harus dijemput. Tugas dan ikhtiar menjemputnya adalah dengan memantaskan
diri dengan kebaikan dan amal Sholeh dilandasi doa yang tulus.
Penulis Joko Priyono Yoso Atmojo, Klaten.



