MARIMENYERU.COM – Siapa
pun tidak mau divonis terkena HIV/ AIDS atau ODHA. Sebab konon aids masih dianggap
sebagai penyakit yang menakutkan. Tidak saja penyembuhannya lama, opini negatif masyarakat yang salah
bagi penyintasnya sampai dampak sosial pengucilan yang sering terjadi bikin
kehidupan penderita HIV/ AIDS kian
sulit.
Itulah
salah satu yang dialami WS (sengaja nama diinisialkan). Perempuan muda asal Sragen, Jawa Tengah yang
kini memilih tinggal di salah satu desa di Klaten yang divonis positif HIV/ AIDS.
Usianya
baru 36 tahun. Sekitar enam tahun lalu, tepatnya 2020 ia divonis terkena HIV/ AIDS.
WS hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Ia tidak punya perilaku seksual yang
menyimpang. Ia lulusan paket C atau setara SMA/SMK.
Pekerjaanya
adalah jasa menjahit baju. Seperti perenpuan desa pada umumnya. WS tidak suka neko – neko. Suami pertama WS
sendiri meninggal dunia karena kecelakaan dengan menyisakan dua anak yang masih
kecil
Vonis
menderita HIV/ AIDS diketahuinya saat WS tes kehamilan anak ketiga dari
perkawinannya kedua dengan laki -laki duda yang usianya sebaya.
Saat
dites HIV ternyata suami kedua WS dinyatakan positif. Suaminya itu ditengarai tertular dari istri
pertamanya yang meninggal dunia dengan gejala dan tanda – tanda HIV/ AIDS .
Kepada
MARIMENYERU.COM, WS menuturkan awalnya sangat terpukul dengan vonis
penyakit itu. Ia mengaku hanya ibu rmah
tangga biasa. Tidak penya perilaku
menyimpang. Tapi seolah Tuhan
mengirimkan penyakit itu dari langit melalui suami keduanya yang diduga
tertular dari istri pertamanya.
“Waktu
itu hati saya juga berontak. Apa salah saya sehingga Tuhan mengirim penyakit
itu dan memilih saya untuk menanggungnya.
Tapi akhirnya saya memilih berdamai dengan Tuhan. Saya memilih mendekatkan diri dengan
agama. Sebab kalau saya menolak takdir,
justeru batin saya makin berat. Saya kasihan
dengan janin yang saya kandung. Itu yang
ada dalam benak saya saat itu” jelasnya.
Cobaan
WS tidak saja cibiran masyarakat saat ia divonis HIV/ AIDS . Ia dan anaknya pun mendapatkan diskriminasi
dalam akses kesehatan.
“Alhamdulillah
setelah di tes anak sayadi usia 18 bulan dinyatakan negatif. Sampai usia 7 bulan anak saya baru mendapatkan imunisasi. Bidan dan puskemas tidak mau memberikan
imunisasi bagi anaknya. Baru setelah saya
datang ke rumah sakit daerah, saya mendapatkan imunisasi buat anak” tambahnya.
Kini
WS memilih bangkit setelah berdamai dengan Tuhan. Wanita berjilbab itu tidak
saja tetap semangat bekerja dengan menjahit, tapi juga menjadi relawan
penghubung bagi penyintas HIV/ AIDS .
“Kini
saya rajin mendampingi para kelompok rentan. Kadang saya harus pulang malam
mengedukasi penghuni lokalisasi saat bekerja.
Misalnya ada laki -laki pelanggan yang maaf alat seksualnya berbau,
mengeluarkan cairan aneh atau terindikasi sakit, saya minta jangan dilayani
biar pun membayar mahal. Atau pria
dengan kulit ruam – ruam atau pucat wajahnya itu biasanya tanda – tanda fisik
terindikasi HIV/ AIDS. Banyak hal yang saya syukuri sesudah saya jadi penyintas
HIV, salah satunya adalah saya berkesempatan bekerjasama dan berkoordinasi
dengan KPA Klaten yang hebat, dinas kesehatan dan puskesmas ” terangnya.
Biarpun
berstatus ODHA, WS tetap semangat belajar. Ia kini mengejar mimpinya untuk bisa menyelesaikan program S-1 guna meraih
gelar sarjana.
“Saya
sedang menyelesaikan kuliah saya di UT (Universitas Terbuka) Surakarta. Saya mengambil jurusan sosiologi. Saya ingin membuktikan perempuan dengan
status ODHA masih bisa belajar dan berkarya. Dengan status positif HIV/ AIDS tidak
harus membuat kita putus asa. Sepanjang masih diberi hidup, kita masih bisa
berbuat baik dan menjadi orang yang bermanfaat” pungkasnya.
Berdasarkan
data Komini Penanggulangan AIDS (KPA)
Kabupaten Klaten wanita berstatus ibu rumah tangga (IRT) yang menderita HIV/ AIDS
tercatat 153 orang. Sedang sebaran tertinggi adalah kelompok
buruh/karyawan dengan jumlah 330 orang (Data KPA Klaten Mei 2026).
Masyarakat
tidak harus mengucilkan atau diskriminatif bagi penyintas HIV/ AIDS
agar komunitas itu bisa hidup layak dan
mendapatkan hak – haknya sebagaimana mestinya.
Menjaga hubungan harmonis dengan pasangan dan menjauhi perilaku seks
menyimpang adalah cara terbaik terhindar dari HIV/ AIDS .
Penulis
Joko Priyono Yoso Atmojo Klaten.



