• Jelajahi

    Copyright © MARI MENYERU
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    pasang

    Subscribe YouTube

    Berstatus Positif HIV/AIDS, Ini Kisah Ibu Muda Klaten Memilih Berdamai dengan Tuhan dan Berjuang Raih Gelar Sarjana

    JEPRI JOKO PRIYONO KLATEN
    Jumat, 30 Oktober 2026, Oktober 30, 2026 WIB Last Updated 2026-10-30T08:49:41Z




    MARIMENYERU.COM – Siapa pun tidak mau divonis terkena  HIV/ AIDS  atau ODHA. Sebab konon aids masih dianggap sebagai  penyakit yang menakutkan.  Tidak saja penyembuhannya  lama, opini negatif masyarakat yang salah bagi penyintasnya sampai dampak sosial pengucilan yang sering terjadi bikin kehidupan penderita HIV/ AIDS  kian sulit.

     

    Itulah salah satu yang dialami WS (sengaja nama diinisialkan).  Perempuan muda asal Sragen, Jawa Tengah yang kini memilih tinggal di salah satu desa di Klaten yang divonis positif HIV/ AIDS.

     

    Usianya baru 36 tahun. Sekitar enam tahun lalu, tepatnya 2020 ia divonis terkena HIV/ AIDS. WS hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Ia tidak punya perilaku seksual yang menyimpang. Ia lulusan paket C atau setara SMA/SMK.

     

    Pekerjaanya adalah jasa menjahit baju. Seperti perenpuan desa pada umumnya.  WS tidak suka neko – neko. Suami pertama WS sendiri meninggal dunia karena kecelakaan dengan menyisakan dua anak yang masih kecil

     

    Vonis menderita HIV/ AIDS  diketahuinya  saat WS tes kehamilan anak ketiga dari perkawinannya kedua dengan laki -laki duda yang usianya sebaya. 

     

     

    Saat dites HIV ternyata suami kedua WS dinyatakan positif.  Suaminya itu ditengarai tertular dari istri pertamanya yang meninggal dunia dengan gejala dan tanda – tanda HIV/ AIDS .

     

    Kepada MARIMENYERU.COM, WS menuturkan awalnya sangat terpukul dengan vonis penyakit itu.  Ia mengaku hanya ibu rmah tangga biasa.  Tidak penya perilaku menyimpang.  Tapi seolah Tuhan mengirimkan penyakit itu dari langit melalui suami keduanya yang diduga tertular dari istri pertamanya.

     

    “Waktu itu hati saya juga berontak. Apa salah saya sehingga Tuhan mengirim penyakit itu dan memilih saya untuk menanggungnya.  Tapi akhirnya saya memilih berdamai dengan Tuhan.  Saya memilih mendekatkan diri dengan agama.  Sebab kalau saya menolak takdir, justeru batin saya makin berat.  Saya kasihan dengan janin yang saya kandung.  Itu yang ada dalam benak saya saat itu” jelasnya.

     

    Cobaan WS tidak saja cibiran masyarakat saat ia divonis HIV/ AIDS .  Ia dan anaknya pun mendapatkan diskriminasi dalam akses kesehatan.

     

    “Alhamdulillah setelah di tes anak sayadi usia 18 bulan  dinyatakan negatif.  Sampai usia 7 bulan  anak saya baru mendapatkan imunisasi.  Bidan dan puskemas tidak mau memberikan imunisasi bagi anaknya.  Baru setelah saya datang ke rumah sakit daerah, saya mendapatkan imunisasi buat anak” tambahnya.

     

    Kini WS memilih bangkit setelah berdamai dengan Tuhan. Wanita berjilbab itu tidak saja tetap semangat bekerja dengan menjahit, tapi juga menjadi relawan penghubung bagi penyintas HIV/ AIDS .

     

    “Kini saya rajin mendampingi para kelompok rentan. Kadang saya harus pulang malam mengedukasi penghuni lokalisasi saat bekerja.  Misalnya ada laki -laki pelanggan yang maaf alat seksualnya berbau, mengeluarkan cairan aneh atau terindikasi sakit, saya minta jangan dilayani biar pun membayar mahal.  Atau pria dengan kulit ruam – ruam atau pucat wajahnya itu biasanya tanda – tanda fisik terindikasi HIV/ AIDS. Banyak hal yang saya syukuri sesudah saya jadi penyintas HIV, salah satunya adalah saya berkesempatan bekerjasama dan berkoordinasi dengan KPA Klaten yang  hebat,  dinas kesehatan dan puskesmas ” terangnya.

     

    Biarpun berstatus ODHA, WS tetap semangat belajar. Ia kini mengejar mimpinya untuk  bisa menyelesaikan program S-1 guna meraih gelar sarjana.

     

    “Saya sedang menyelesaikan kuliah saya di UT (Universitas Terbuka) Surakarta.  Saya mengambil jurusan sosiologi.  Saya ingin membuktikan perempuan dengan status ODHA masih bisa belajar dan berkarya. Dengan status positif HIV/ AIDS tidak harus membuat kita putus asa. Sepanjang masih diberi hidup, kita masih bisa berbuat baik dan menjadi orang yang bermanfaat” pungkasnya.

     

    Berdasarkan data Komini Penanggulangan AIDS  (KPA) Kabupaten Klaten wanita berstatus ibu rumah tangga (IRT) yang menderita HIV/ AIDS  tercatat 153 orang.  Sedang sebaran tertinggi adalah kelompok buruh/karyawan dengan jumlah 330 orang (Data KPA Klaten Mei 2026).

     

    Masyarakat tidak harus mengucilkan atau diskriminatif bagi penyintas HIV/ AIDS  agar komunitas itu bisa hidup layak dan mendapatkan hak – haknya sebagaimana mestinya.  Menjaga hubungan harmonis dengan pasangan dan menjauhi perilaku seks menyimpang adalah cara terbaik terhindar dari HIV/ AIDS .

     

    Penulis Joko Priyono Yoso Atmojo Klaten.

     

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini