• Jelajahi

    Copyright © MARI MENYERU
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    pasang

    Subscribe YouTube

    Penderita HIV/AIDS Masih Kerap Mendapat Perlakuan Diskriminatif

    JEPRI JOKO PRIYONO KLATEN
    Senin, 02 November 2026, November 02, 2026 WIB Last Updated 2026-11-03T06:10:18Z

     



    MARIMENYERU.COM – Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten dr Ronny Roekmito M.Kes mengungkapkan penderita HIV / AIDS masih sering mendapatkan perlakuan diskriminatif atau tidak adil oleh masyarakat. Sikap diskriminatif itu mulai dari pengucilan sosial sampai keterbatasan akses pelayanan umum.

     

    “Tentu masih (ada perlakuan diskriminatif) mas. Tapi mereka (masyarakat)  yang sudah mendapatkan edukasi sudah berkurang banyak” jelas Rony kepada MARIMENYERU.COM saat dikonfirmasi Senin malam (2/11) melalui sambungan watshapp.

     

    Mantan Asisten II Setda Klaten menambahkan perlakuan diskiminatif itu banyak menyasar kelompok anak – anak dan ibunya. Baginya sikap dikriminatif  itu harus ditinggalkan.

     

    “Yang baru-baru  ini terjadi anak adalah anak SD yang ibunya HIV.  Lalu teman sebayanya   menjauhi. Atas pertimbangan keluarga,  anak itu terpaksa dipindahkan keluarga. Ibunya sendiri  dicuekin oleh penduduk desa.  Ini sikap yang salah.  Prinsipnya jauhi penyakitnya bukan orangnya” tegas Ronny.

     

    Pengakuan perlakuan diskriminatif juga dibenarkan WS (36), penderita HIV/AIDS warga asal Sragen yang kini tinggal di Klaten. Ia tidak saja dapat cibiran masyarakat saat ia divonis HIV/ AIDS, juga bayi yang juga sulit mendapatkan akses kesehatan.

     

    “Alhamdulillah setelah di tes anak saya di usia 18 bulan  dinyatakan negatif.  Sampai usia 7 bulan  anak saya baru mendapatkan imunisasi.  Bidan dan puskemas tidak mau memberikan imunisasi bagi anaknya.  Baru setelah saya datang ke rumah sakit daerah, saya mendapatkan imunisasi buat anak” tambahnya.

     

    Setelah dinyakan positif HIV/AIDS, kini WS memilih jadi relawan sosial. Ia menjadi relawan penghubung bagi penyintas HIV/ AIDS sebagai bekerja sosial biar pun tanpa bayar.

     

    “Kini saya rajin mendampingi para kelompok rentan. Kadang saya harus pulang malam mengedukasi penghuni lokalisasi saat bekerja.   Banyak hal yang saya syukuri sesudah saya jadi penyintas HIV, salah satunya adalah saya berkesempatan bekerjasama dan berkoordinasi dengan KPA Klaten yang  hebat,  dinas kesehatan dan puskesmas ” pungkasnya.

     

    Penulis Joko Priyono Yoso Atmojo Klaten.

     

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini