MARIMENYERU.COM
– Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten dr Ronny Roekmito M.Kes mengungkapkan
penderita HIV / AIDS masih sering mendapatkan perlakuan diskriminatif atau
tidak adil oleh masyarakat. Sikap diskriminatif itu mulai dari pengucilan sosial
sampai keterbatasan akses pelayanan umum.
“Tentu
masih (ada perlakuan diskriminatif) mas. Tapi mereka (masyarakat) yang sudah mendapatkan edukasi sudah berkurang
banyak” jelas Rony kepada MARIMENYERU.COM saat dikonfirmasi Senin malam
(2/11) melalui sambungan watshapp.
Mantan
Asisten II Setda Klaten menambahkan perlakuan diskiminatif itu banyak menyasar
kelompok anak – anak dan ibunya. Baginya sikap dikriminatif itu harus ditinggalkan.
“Yang
baru-baru ini terjadi anak adalah anak SD
yang ibunya HIV. Lalu teman sebayanya menjauhi.
Atas pertimbangan keluarga, anak itu
terpaksa dipindahkan keluarga. Ibunya sendiri dicuekin oleh penduduk desa. Ini sikap yang salah. Prinsipnya jauhi penyakitnya bukan orangnya”
tegas Ronny.
Pengakuan
perlakuan diskriminatif juga dibenarkan WS (36), penderita HIV/AIDS warga asal
Sragen yang kini tinggal di Klaten. Ia tidak saja dapat cibiran masyarakat saat
ia divonis HIV/ AIDS, juga bayi yang juga sulit mendapatkan akses kesehatan.
“Alhamdulillah
setelah di tes anak saya di usia 18 bulan
dinyatakan negatif. Sampai usia 7
bulan anak saya baru mendapatkan
imunisasi. Bidan dan puskemas tidak mau
memberikan imunisasi bagi anaknya. Baru
setelah saya datang ke rumah sakit daerah, saya mendapatkan imunisasi buat
anak” tambahnya.
Setelah
dinyakan positif HIV/AIDS, kini WS memilih jadi relawan sosial. Ia menjadi
relawan penghubung bagi penyintas HIV/ AIDS sebagai bekerja sosial biar pun
tanpa bayar.
“Kini
saya rajin mendampingi para kelompok rentan. Kadang saya harus pulang malam
mengedukasi penghuni lokalisasi saat bekerja.
Banyak hal yang saya syukuri
sesudah saya jadi penyintas HIV, salah satunya adalah saya berkesempatan
bekerjasama dan berkoordinasi dengan KPA Klaten yang hebat,
dinas kesehatan dan puskesmas ” pungkasnya.
Penulis Joko Priyono Yoso Atmojo Klaten.



